KETIKA SEORANG GUS KETIKUNG CINTA #1




 

KETIKA SEORANG GUS KETIKUNG CINTA #1

Gus Muhammad Nashirul Umam, atau biasa di panggil Gus Umam putra dari salah seorang muasis pondok pesantren sudah beranjak dewasa. Dia sudah merasakan desakan hati akan rasa suka kepada lawan jenis. Seorang gadis yang cantik penuh anggun yang dikenalnya sebagai gadis sholihah telah mengambil tempat di hatinya, Nabila Alfiyatuz Zahro namanya. Tentu saja ini menjadi hal pertama dalam hatinya mengenal cinta. Dia merasa pilihannya tepat. Pilihan menurut akal sehat dan perasaan halus dari mahkota jiwa yang suci.

Tapi bagaimanapun, ia merasa canggung dan agak malu-malu untuk mengungkapkannya. Ia berfikir, kalau mengungkapkan cinta kepada seorang gadis cantik yang anggun lagi santun,tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pemula dalam pengembaraan mencari cinta. Harus ada seseorang yang mengerti tentang cinta atau setidaknya bisa membuatkan sebuah puisi cinta yang akan di gunakannya untuk menembak Neng Nabila. Maka disampaikanlah gelegar hati itu kepada sahabat dekatnya yang sudah di anggap sebagai saudaranya sendiri. Dia adalah Kang Jalaludin Ahmad.

Akhirnya Gus Umam bertemu sahabatnya di warung kopi depan  ponpes . “Gus Jalal”, sapa Gus Umam. “Gas gus gas gus, ampun manggil saya gus”, balas kang Jalal. “Lho kok, lha panjenengan khan anak e seorang kyai tho guuuus”, Gus Umampun menimpalinya. Gus Jalalpun menjawab, “Lho sejak kapan ada seorang kyai manak?”, “Maksud e anak e bu nyai gus... ha ha ha.” Gus Umampun membalas di iringi gelak tawanya. Gus Jalal, tau aja kalau saya bathin. Saya lagi butuh bantuan niki gus.
“Gus Jalal, aku mau minta tolong buat lamar seorang cewek gus. Nakokke maksud e gus. Niku lho Neng Nabila Alfiyatus Zahro. Putrinipun romo Kyai Hamam Muhammad.” “Lho, njih jenengan matur abahe kyambak tho Gus Umam. Hambok jangan saya, belum pengalaman kalo soal tembung menembung.” ungkap Kang Jalal. “Abah itu gampang gus, sing penting kita silaturrohim dulu kesana. Nanti klo Neng Nabilanya mau, baru saya matur sama abah sama ummi”, jawab Gus Umam.
“Njih sampun gus,tapi bilih abahe ngamuk-ngamuk. Jenengan tanggung jawab lho ya”, ucap Gus Jalaludin Ahmad . “Ok”, jawab Gus Umam. Gus Jalalpun mulai menanggapinya serius. “Gini gus, sebaiknya kita atur acara ketemuannya dengan Neng Nabila. Lebih cepat lebih baik gus.” Akhirnya pertemuan itu di sepakati di rumah Neng Nabila. Alasannya Neng Nabila adalah seorang perempuan yang di larang keluar rumah sendirian oleh orang tuanya.

Singkat cerita bertamulah dua orang ini ke rumah Kyai Hamam Muhammad.Di ruang tamu yang hanya di kasih alas karpet hijau. Begitu sederhana dan sangat bersahaja. Di sana duduklah 5 orang. Mereka adalah kang Jalaludin Ahmad, Gus Nashirul Umam, Romo Kyai Hamam, Bu Nyai Maysyaroh dan Nabila Alfiyatuz Zahro.
Mulailah Kang Jalaludin Ahmad angkat bicara. “Nyuwun pangapunten sanget kyai, mbok bilih dalem kladuk toto kirang dugo yai. Perkenalkan saya adalah Kang Jalal dan ini adalah teman dekat saya Gus Nashirul Umam. Putranipun Romo Kyai Ridwan Ahmad.”
“Ooooowwwh, ngaten tho kang. Kyai Hamam memulai pembicaraan. “Lha, mbok bilih angsal perso Kang Jalal niku saking pundi? Trus tasih mondok nopo pun kerjo?” Lalu, Gus Jalal pun menjawab,”Kulo namung dados keamanan pasar yi, kadang njih tukang parkir.” “Injih bah”, Nabila menyela. “Niku lho bah, pas Nabila di ganggu preman pasar Rejo. Lha, niku Kang Jalal ikang nylametaken nanda bah. Lha saniki, preman-preman pasar sami sungkan sedanten kliyan nanda. Malah  preman-preman niku saniki ikang membawakan barang-barang belanja nanda. Mergi preman-preman niku sami ajrih lan hormat dateng Kang Jalal.”
“ooowwwhhh ngono tho nduk, matur nembah nuwun Kang Jalal njih?” “lha nak  Gus Umam iki nduk, aku wes ngerti, putronipun Kyai Ridwan Ahmad. Iku Yai Ridwan disik koncoku sak pondok.”
“Mbok bilih angsal perso,wonten parigatos menopo kang? Kok dumadakan anjangsono dateng mriki?” Kang Jalalpun menjawab,”Nyuwun dalem sewu kyai, mbok bilih kepareng anggen kulo matur. Putrinipun Pak Kyai ingkang asmo Nabila Alfiyatuz Zahro ajeng dipun suwun gus kulo meniko kyai.”
“Ooowwwh... ngaten tho, kalau bagi saya mboten masalah. Tetapi tak tanyakan dulu sama Nabila dulu njih kang?”
“Nduk iki Gus Umam karep karo awakmu. Kiro-kiro awakmu gelem pora nduk? Cobo lihat itu Gus Umam ilmu agamanya mantap, sainsnya juga mumpuni. Wajahnya cakep, baik. Punya pekerjaan mapan, yang halal dan alhamdulillah cukup banyak hasilnya jika di lihat dari segi materi. Kalau soal ibadahnya insya alloh apik lan di ilmuni. Yo sopo ngerti iso dadi imam kanggo awakmu nduk .Soale, abah wes kenal sopo iku Gus Umam lan keluarga besare Kyai Ridwan.”
Semua menjadi bisu. Tak ada seorangpun yg berbicara. Jantung Gus Umam berdetak kencang menanti jawaban Neng Nabila. Kang Jalalpun hanya makan cemilan dan sesekali meneguk secangkir kopi yang telah di suguhkan. Karena dia merasa, ini adalah urusan Gus Umam. Dia hanya sekedar comblang. Hanya jadi pendamping yang mengantarkan sahabatnya meraih cinta.
Nabila yang sejak tadi menundukkan diri, mulai mengangkat wajahnya yang mulai sembab di hias tetes-tetes air mata. Diapun berucap. “Nyuwun dalem sewu abah, ananda haturkan beribu kata maaf dan nanda harus jujur dengan hati nanda. Nanda tak ingin menjadi insan terselubung kemunafikan. Nanda tak bisa menerima Gus Umam. Tetapi, bilih Kang Jalaludin Ahmad ikang ngersaaken, ananda siap nampi lan nanda njih purun dados garwanipun Kang Jalal.”
Semua terdiam,hening. Hanya isak tangis sesenggukan Neng Nabila yang sayup-sayup terdengar.
Setelah menghela nafas panjang, Kyai Hamampun bertanya kepada Neng Nabila. “Lho... kok abah bingung nduk, maksude piye iki?”
“Nyuwun dalem sewu bah, karena hati nanda telah di penuhi cinta kepada seseorang, yang senangdung rindunya membuat alam ini cemburu. Aku berharap dia mau menjadi imam hidup ku. Aku ingin titipkan separuh hatiku di jantungnya. Dialah sang pangeran sunyi. Dia adalah Kang Jalaludin Ahmad.Ku telah mencintainya jauh sebelum kumengenal Gus Umam.”

Suasana menjadi hening seketika. Serasa berada di tengah kuburan. Kang Jalaludin Ahmad hanya mlongo. Serasa tak percaya dengan apa yang dia dengar. Neng Nabila semakin menundukkan wajahnya. Di tengah keheningan itu terdengar suara lembut penuh riang berucap kata.
"Allahu Akbar!!!!" Subhanalloh­", kata Gus Umam.
"Aku tak sakit hati Nabila. bagiku kebahagiaanmu yang utama. Aku tak ingin melihatmu hidup di rundung nestapa. Bahkan aku tak rela jika air matamu basahi pipi lembut mu. Aku yakin sahabatku Gus Jalaludin Ahmad bisa membuatmu tersenyum. Bisa membuatmu bahagia dalam rengkuhannya. Aku dulu terlahir tak membawa apa-apa.Dulu aku tak mengenal mu. Dulu aku juga belum bersahabat dengan guse. Allohlah yang telah mempertemukan kita semua. Aku yaqin Alloh punya rencana yang baik buat hidupku. Meski terkadang dengan cara-Nya yang nylenéh dan anèh. Ini hanya soal waktu dan adaptasi hati.”

Jalaludin Ahmad hanya terdiam seribu bahasa. Tenggorokanny­a tercekat di sesenggukan kesedihannya. Pada dasarnya dia juga mencintai Neng Nabila.Tetapi belumlah sempat di sampaikannya kepada Nabila, temannya telah memintanya sebagai perantara untuk mencomblanginnya dengan Neng Nabila. Dan sekarang ada dua rasa berbenturan di hatinya. Jika dia menolak cinta Nabila, maka dia telah menyakiti 3 hati. Hatinya sendiri, hati Gus Umam dan hatinya Nabila. Tetapi jika di terima cintanya, maka beban hati merasa sebagai pengkhianat akan melekat seumur hidup.

Lalu... Kyai Hamampun bertutur, “Pangapunten­ sanget Gus Umam. Saestu pangapunteeeen sanget gus. Lhak abah niku sreg e lan remene Nabila dados garwon nipun Gus Umam. Abah langkung yaqin niku gus, jenengan saged dados imam ikang sae ingkang saged bimbing  Nabila. Setidak e, ilmu agamanya panjenengan lebih mumpuni. Mboten bermaksud su'udzon dateng Kang Jalal. Cuma jenengan ngertos kyambak tho. Kwatire jadi orang tua itu gimana,  apalagi jika putri satu-satunya mau menikah dengan orang yang  belum aku kenal sama sekali.”
“Ah,mboten nopo-nopo kok kyai. Itu Gus Jalal sejatos ipun putro nipun Al Fadhil panjenengan nipun Romo Kyai Zidnan Ali.”
“Apa????, romo Kyai Zidnan Ali??????” (tanya Kyai Hamam, Bu Nyai Maysyaroh, dan Neng Nabila yang ketiganya tersentak kaget sambil berdiri)

Lalu Gus Umam melanjutkan. “Injih kyai, meniko Gus Jalal putro nipun Romo Kyai Zidnan Ali Bin Muhammad Hasyim Ali Bin Muhammad Abdulloh Ali. Pengasuh pondok pesantreeeeennn.” Belu­mlah selesai kata-kata Gus Umam, Kyai Hamam langsung merangkul Gus Jalal. Terus menciumi kedua tangan Gus Jalal. Kyai hamampun berkaca-kaca matanya dan dengan terbata bata beliau berucap klesik... klesik... klesik... klesik... klesik... lha ngono.
#Bersambung

Oleh Ma'arif Wibowo
 



Belum ada Komentar untuk "KETIKA SEORANG GUS KETIKUNG CINTA #1"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

336x280

Iklan Tengah Artikel 1

336x280

Iklan Tengah Artikel 2

336x280

Iklan Bawah Artikel

336x280